Kamis, 30 Maret 2017

5 Penyerang Terbaik yang Pernah Membela Timnas Indonesia

5 Penyerang Terbaik yang Pernah Membela Timnas Indonesia-Posisi penyerang adalah posisi yang paling diapresiasi dalam dunia sepak bola. Nilai pemain di posisi ini begitu berharga jika harus dicairkan dalam uang dan diterjemahkan untuk kepentingan sepak bola itu sendiri.

Dari posisi inilah kerap lahir momentum gol yang dibutuhkan sebagai penentu hasil pertandingan, karena mereka-mereka yang berdiri sebagai penyerang bisa dilihat sebagai pemain yang paling sering mendekati gawang lawan dan melakukan penyelesaian dari sebuah proses serangan, terlepas dari fakta apakah mereka terlibat dalam proses itu sendiri atau 'hanya' seseorang dengan satu dua sentuhan terakhir yang akurat dan berada di waktu dan posisi yang tepat.

Indonesia sendiri sudah pernah memiliki banyak penyerang handal Vivagoal Situs Berita Bola Terkini. Ada yang namanya masih begitu melekat di benak pecinta sepak bola Asia Tenggara meski sudah satu dekade pensiun dari dunia internasional, ada juga seorang legenda dengan status pencetak gol terbanyak timnas Indonesia. Kembali pada fakta bahwa penyerang adalah posisi yang memungkinkan pemerannya mendapatkan apresiasi lebih mudah dan lebih tinggi dibanding posisi lainnya, maka untuk masuk dalam kategori terbaik si penyerang Vivagoal Situs Berita Bola Terkini harus memiliki faktor pembeda yang menonjol dibanding nama-nama lainnya.

Lantas siapa saja yang masuk dalam kategori penyerang terbaik yang pernah membela timnas Indonesia?

1) Kurniawan Dwi Yulianto


Kurniawan Dwi Yulianto merupakan salah satu penyerang terbaik yang pernah dimiliki timnas Indonesia. Pemain yang dijuluki Si Kurus tersebut telah mengantongi 60 caps dengan koleksi 31 gol. Hingga 2014 lalu, Kurniawan juga telah membela 15 klub dari berbagai level kompetisi dalam maupun luar negeri. Ia merupakan produk program PSSI Primavera pada 1993.

Di era 90-an, Kurniawan merupakan striker yang sangat ditakuti oleh tim lawan. Pria kelahiran Magelang, 13 Juli 1976 itu punya kecepatan, kelincahan, dan akurasi tembakan penyelesaian yang menawan. Namun, dari pengakuannya sendiri, awalnya ia sebetulnya berposisi sebagai seorang bek.

Ia memulai karirnya di Diklat Salatiga dan kemudian hijrah ke Diklat Ragunan sebelum dikirim ke Italia untuk program PSSI Primavera yang berlaga di Italia kasta Serie C2.

Kurniawan sempat berlabuh di klub Swiss, FC Luzern, dan mengaku memiliki satu memori manis di sana. Pada 9 April 1995, FC Luzern menghadapi laga derbi kontra FC Basel. Ia mencetak gol kemenangan dalam laga yang berakhir 2-1 tersebut.

Memutuskan pensiun dari timnas pada 2005 dan dari sepak bola secara keseluruhan pada 2014, Kurniawan yang kini beristrikan seorang perempuan Malaysia itu aktif dalam Yayasan Olahraga Anak Nusantara yang dibentuknya bersama Melanie Putri dan Ibnu Jamil. Meski sudah memiliki lisensi kepelatihan yang mengijinkannya untuk melatih klub, Kurniawan berdalih lebih fokus ke pendidikan usia dini untuk anak-anak yang mencintai sepak bola dan olahraga lainnya.

2). Bambang Pamungkas

Mantan pemain Persija yang akrab disapa Bepe ini adalah pemegang caps terbanyak sekaligus pencetak gol terbanyak untuk tim Merah Putih, yaitu bermain sebanyak 82 kali (laga yang terdaftar dalam oleh FIFA) dan mencetak 37 gol.

Pria kelahiran 10 Juni 1980 ini pernah merajai Asia Tenggara ketika menjadi top skor Piala Tiger (sekarang Piala AFF) tahun 2002, di mana ia mencetak delapan gol dalam enam pertandingan yang dijalaninya.

Tahun 2002 memang merupakan tahun emas bagi Bambang Pamungkas. Sepak terjangnya di Piala Tiger kala itu sungguh luar biasa. Setelah mencetak hat-trick kontra Kamboja dalam kemenangan 4-2 dan empat gol saat menghadapi Filipina (13-1), ia kembali menjadi pahlawan timnas dengan mencetak gol tunggal ke gawang Malaysia dalam babak semi-final. Gol yang tercipta di menit ke-75 tersebut disambut meriah oleh puluhan ribu suporter yang memadati Gelora Bung Karno. Namun, Bambang gagal mempersembahkan gelar juara untuk Indonesia setelah Merah Putih dikalahkan Thailand di partai final.

3). Boaz Solossa

Boaz Solossa adalah ikon bagi masyarakat Papua. Pria kelahiran Sorong, 16 Maret 1986 ini menekuni dunia sepak bola profesional sejak 2005.

Performanya bersama tim sepak bola Papua pada PON 2004 membuatnya mendapatkan kesempatan membela timnas Indonesia yang saat itu diarsiteki legenda Aston Villa, Peter Withe.

Kagum dengan bakat yang dimiliki Boaz, Peter bahkan sempat menawari Boaz untuk berkarir di Eropa. Namun tawaran itu ditolaknya karena ia lebih memilih untuk berseragam Persipura atas saran Gubernur Papua saat itu yang juga pamannya, Jaap Solossa.

Pilihan Boaz terbukti tepat. Ia bersama generasi emas Persipura lainnya, Christian Warobay, Ian Kabes, Korinus Fingreuw, dan Immanuel Wanggai sukses membawa tim Mutiara Hitam yang saat itu dibesut Rahmad Darmawan menjuarai Liga Indonesia 2005.

Pada tahun 2011, Boas kembali mendapat tawaran untuk bermain di luar negeri dari klub Belanda VVV-Venlo, tetapi karena alasan keluarga dia memilih untuk tetap bermain di Persipura Jayapura.

Di level timnas, karir Boaz sempat diwarnai tindakan pembangkangan dan indisipliner. Di atas lapangan ia telah memakai seragam timnas sebanyak 30 kali dan mencetak delapan gol.

Sepanjang karirnya sebagai pesepakbola hingga 2015, Boaz hanya memperkuat dua klub, Persipura dan PBFC. Klub yang disebutkan terakhir baru merekrutnya pada 2015. Pada tahun 2016 ini, Boaz dipastikan akan berkarier di Timor Leste bersama Carsae.

4) Widodo C Putro

Nama pemain yang lekat dengan Petrokimia Gresik ini memiliki pencapaian yang belum bisa ditandingi para penerusnya di lini depan timnas Garuda. Ia menjadi satu-satunya pemain Indonesia yang sukses melesakkan gol yang dinobatkan sebagai gol terbaik Piala Asia.

Momen membanggakan bagi pria kelahiran 8 November 1970 itu tercipta ketika dirinya memperkuat timnas Indonesia di ajang Piala Asia 1996. Kala itu Indonesia menghadapi salah satu tim kuat, Kuwait. Secara mengejutkan Widodo dkk sukses menahan tim asal Timur Tengah itu dengan skor 2-2.

Laga itu diwarnai oleh gol salto Widodo yang lahir di menit 20. Memanfaatkan umpan silang dari sisi kanan, Widodo berhasil mencetak gol dengan tendangan salto sekaligus membawa Indonesia memimpin 1-0.

Widodo merupakan andalan Indonesia di lini depan pada era 90an. Mantan pemain Warna Agung, Petrokimia, dan Persija itu membela timnas sejak 1991. Hingga 1999, Widodo sudah mengoleksi 15 gol dari 52 penampilan.

Setelah gantung sepatu, Widodo memilih terjun ke dunia pelatih dan memilih Petrokimia Putra Gresik sebagai awal karirnya pada 2004. Widodo kembali terjun ke timnas saat ia dipercaya BTN untuk menjadi asisten pelatih tim nasional sepak bola Indonesia Pra Olimpiade, SEA Games dan Kualifikasi Piala Asia dari periode 2006 hingga 2008. Sempat menangani tim di level klub lagi bersama Persela Lamongan, Widodo kemudian menjadi salah satu asisten Alfred Riedl di Piala Suzuki AFF 2010. Saat ini, ia melatih Persegres Gresik United.

5. Soetjipto Soentoro

"Kau, Gareng, lawan si Belanda itu. Tunjukkan bahwa bangsa Indonesia itu bangsa besar."

Kalimat itu diucapkan Bung Karno sebelum si Gareng turun bersama timnas Indonesia untuk menghadapi juara Liga Belanda, Feyenoord Rotterdam, pada 9 Juni 1965. Meski kalah telak 1-6, si Gareng yang menjadi kapten tim sempat memamerkan kelihaiannya mencetak gol. Melewati tiga bek sekaligus, ia sukses membobol gawang Feyenoord saat laga baru berjalan dua menit.

Gareng adalah sebutan bagi mendiang Soetjipto Soentoro, penyerang andalan tim nasional Indonesia di era 60 hingga 70an. Lahir di Bandung, Jawa Barat, 16 Juni 1941, bakat Soetjipto sudah tersiar saat usianya masih belasan tahun, ketika ia mulai memperkuat Persija.

Ia kemudian mengikuti Pelatnas PSSI Junior untuk Piala Junior Asia 1959. Di Piala Junior Asia, Soetjipto Soentoro menjadi top skor dengan 14 gol. Sayang langkah Indonesia terhenti di semifinal setelah disingkirkan Burma (sekarang Myanmar) yang akhirnya menjadi juara. Performanya di Piala Junior Asia membawanya menjadi pemain yang diandalkan dan dipromosikan ke tim senior.

Si Gareng adalah top skor tak resmi timnas Indonesia dengan torehan 57 gol dari 68 pertandingan di kancah internasional (termasuk laga-laga tak resmi FIFA). Bukan hal yang asing baginya untuk bisa mencetak hat-trick atau quad-trick dalam satu laga. Bahkan di Turnamen Merdeka 1969, ia sanggup mencetak delapan gol saat Indonesia membantai Singapura 9-2 di partai semifinal. Indonesia akhirnya menjuarai turnamen ini setelah mengalahkan Malaysia 3-2, di mana Soentoro berhasil mencetak satu gol.

Soentoro Soetjipto menghembuskan nafas terakhirnya pada 12 November 1994, di usia 53 tahun, setelah melawan penyakit lever yang dideritanya selama empat tahun. Ia dimakamkan di pemakaman Tanah Kusir, Jakarta.

Nah itulah 5 Penyerang Terbaik yang Pernah Membela Timnas Indonesia yang patut diajungi jempol. Ada apa engak ne jagoan kamu di daftar diatas?. Jangan lupa di baca Desain Sepatu Sepak Bola Terunik Ini Berbeda dari yang Lainnya ya :)

0 komentar

Poskan Komentar